Tuesday, October 29, 2013
Cita-cita! Apakah hanya sebuah cita-cita?
"Akhirnya ACC juga..." aku merasa lega sekaligus malas, karena didepan masih ada tugas yang sama yang harus ditumpas. Inilah kegiatan yang aku tempuh dikampus, nggak bisa lepas dari tugas dan praktikum, juga laporan praktikumnya tentunya. Terkadang aku bingung, kenapa aku harus ngelakuin itu semua? Padahal cita-citaku dan impianku sangatlah bertolak belakang dengan kegiatan yang aku lakukan dikampus. Menjadi seorang "Insinyur"! Ya, dulu memang aku pernah bercita-cita menjadi seorang insinyur, tapi itu dulu banget, waktu itu aku masih TK, dan semuanya berubah seiring berjalannya waktu.
Saturday, October 19, 2013
Menggila gara-gara tugas!
Mataku masih terasa sepet dan belum bisa melihat jelas benda-benda yang menghiasi kamar kosanku. Kepalaku terasa berat, kantuk masih menghiasi benakku. Tapi aku sadar akan satu hal, waktu. "Jam berap ini?" gumamku dalam hati. Aku kucek-kucek mataku perlahan kemudia aku duduk dan mengambil handphone yang berada dimeja dekat tempat tidurku. Aku lihat jarum jam sudah menunjuk ke angka tujuh. "Astagfirullahal'adzim, gua telat ni!".
Itulah gambaran kegiatan gua akhir-akhir minggu ini, selalu telat bangun pagi gara-gara banyaknya tugas dan praktikum yang menggila. "Ya Allah bisakah kau turunkan keajaiban-Mu khusus untukku agar aku bisa melahap tugas-tugas dan menjajah para rumusan angka dihapanku, agar aku bisa merdeka! Aku mohon Tuhan!" Cling! Tiba-tiba gua jadi buas dan lahap mengerjakan tugas dengan cepat, sampe-sampe kekurangan soal dan minta soal orang lain. "Mana soal? Mana soal? Mana Soal?" Aku menggila. Heits Sadar! Sadar! Sadar! Mana mungkin bisa super kilat kaya gitu, ini bukan kisah dongeng Cinderella coy!
Banyaknya tugas bukan hanya membuat gue stress penuh tekanan, tapi juga membuat gue gila!.
Impianku Menjadi Seorang Penulis!
Tidak sedikit orang yang tadinya bukan siapa-siapa yang
akhirnya menjadi orang yang dikenal banyak orang dari hasil karya tulisannya.
Ini yang menjadikan ku semangat untuk bisa menulis. Aku ingin sekali menyajikan
sebuah karya tulis yang bukan hanya laku dipasaran tapi juga banyak manfaat
yang bisa didapat dari buku yang aku buat. Sebagai contoh adalah Novel Negeri 5
Menara, novel karya bang Ahmad Fuadi
ini mampu memotivasi aku untuk selalu bersungguh-sungguh dalam mengamalkan
segala sesuatu. Man Jadda Wajada. Novel yang sangat inspiratif, menarik, dan
ringan dibaca untuk semua kalangan masyarakat ini memilki jiwa didalamnya,
novelnya tampak begitu hidup, kejadian demi kejadian yang dialami Alif sang tokoh utama didalam novel
tersebut terlihat begitu jelas dan nyata.
Dari Novel inilah aku terinspirasi untuk bisa menuliskan
ceritaku, pengalaman hidupku, dan perjuanganku dalam menuntut ilmu di Pesantren.
Banyak yang bisa aku ceritakan, mulai dari awal aku tidak punya pikiran untuk
masuk ke pesantren, sampai akhirnya aku malah jadi tertarik untuk masuk ke
pesantren, tentang cerita persahabatanku dengan Asep dan Alin, tentang alasan
kedua orangtuaku memasukan aku kedalam pesantren, dan tentang banyak hal
lainnya. Tapi satu kendalaku saat ini yaitu aku masih bingung untuk memulai,
aku masih ragu untuk memulai, dan aku masih mencari-cari dari mana aku harus
memulai? Aku tahu butuh waktu dan proses yang sangat lama untuk bisa
merampungkan sebuah novel yang bagus, bahkan Ahmad Fuadi sendiri pun butuh waktu satu tahun untuk bisa
menyelesaikan satu novel lanjutan dari novel trilogy Negeri 5 Menara.
Ya aku tahu perlahan tapi pasti, itu yang sedang aku lakukan
sekarang, aku perlu banyak latihan untuk bisa membuat tulisan yang indah, untuk
bisa membuat cerita yang bagus, untuk bisa membuat alur yang tidak monoton dan
mebosankan, aku harus bisa membuat jalan cerita semenarik mungkin. Tapi
bagaimana caranya sob? Ya aku juga tahu itu jangan pernah bertanya bagaimana?
Tapi cari siapa? Mencari orang yang sudah bisa meluncurkan novel dan menjadi bestseller.
Penulis yang aku kenal dekat saat ini hanya ada Setiawan Chogah, dia adalah salah satu
partner kerja ku di Kremov Pictures, dan dia bukan hanya seorang penulis tapi
dia juga seorang wartawan tabloid Banten
Muda. Dia juga pernah menjadi editor novel AgnesDavonar, tapi dia sendiri belum pernah meluncurkan sebuah
karya novel, hanyak dia sudah sangat sering membuat cerpen dan dimuat
diberbagai media daerah bahkan nasional. Lah aku? Membuat cerpen pun sampai
saat ini masih belum bisa rampung, yang ada aku pasti menyelasaikannya
dipertengahan cerita.
Yap aku tau untuk menjadi seseorang yang besar harus
melakukan usaha yang besar pula, tidak ada sesuatu yang bernilai besar hanya
dibeli dengan usaha yang kecil, tidak balance
bukan?. Maka dari itu aku pun harus terus berusaha untuk bisa mewujudkan
cita-cita besarku ini. Menjadi seorang penulis terkenal dan karya-karya
tulisanku diadobsi untuk tayang dilayar lebar, itu akan sangat menarik sekali.
Semoga impianku ini bisa segara terwujud dan tercapai. Ya Allah aku mohon
bantuan dan dukungan dari Mu. Amiin.
Cilegon (KCC Squadra), 03 September 2013.
Kecebur sambil Berlibur!
Kecebur sambil berlibur, itulah julukan untuk kejadian yang
saya alami kemarin. Asik, seneng, kenyang, mantap, nikmat, asoy.. boy, pokoknya
enak deh. Alkisah dimulai dari ajakan iseng-iseng senior saya, bang Derry
namanya. Dia ngajakin saya buat
ikutan kerja menjadi pemandu outing game di
Hotel Bandulu Anyer, samping Hotel Marbella.
Disana kita hanya kerja menemani para tamu yang berlibur,
menyiapkan permainan, dan menjadi pemandu acara game, udah itu aja. Sisanya kita free alias bebas buat ngapain aja, mau berenang, mau makan-makan
makanan yang udah disediakan, mau jalan-jalan dipantai atau tidur-tiduran di
kamar hotel dan sebagainya. Enak toh?
Bukan hanya itu kita juga mampir ke Hotel tetangga sebelah yaitu Marbella. Wahh… Boyyy disana lebih oke lagi hotelnya
begitu juga dengan pengunjungnya, hahaha
lebih mantap dah.
Makan gratis, tidur gratis, berlibur gratis, ya cuma ada
diacara ini, udah gitu kita dapet bayaran lagi setelah selesei acara. Entah mana lagi nikmat Tuhan kita, yang kita
dustakan?? Ini sungguh pemberian dari-Nya sang Maha Penguasa jagat alam raya
ini. Terima Kasih Tuhan kau telah memberikanku kesempatan untuk bisa
menghasilkan uang sendiri, dengan cara yang nikmat, aku akan memanfaatkan
momentum ini dengan sebaik-baiknya. Semoga Kau tetap setia bersama kami.
Amiiin.
Begitulah ceritanya kecebur sambil berlibur ini, kecebur
ditempat yang memungkinkan banyak manfaatnya dan mendapatkan income yang lumayan untuk ukuran
mahasiswa seperti saya. Semoga kedepannya ini akan menjadi ajang bisnis yang sukses.
Saya ceritakan perjalanan kerjanya seperti ini, acara
dimulai sekitar jam sepuluh pagi, biasanya para tamu baru pada datang dan chek in ke Hotel terus istirahat sejenak
sampe Dzuhur. Kita gak harus datang jam sepuluh, wong palingan kita mandu acara
itu sekitar sorean lah gak mungkin siang, jadi kemaren saya datang jam dua
belas siang. Setelah itu kita sholat dzhuhur terus lanjut makan. Abis makan
kita konsultasikan dengan panitia tamu kapan mau dimulai gamenya, setelah tau
jadwalnya, kita siapkan alat-alat yang akan dipakai, udah gitu kita bisa
nyantai lagi deh duduk-duduk di kolam renang atau sekedar foto-foto.
Kalo udah siap kita show baru deh dikumpulin tamunya dan
kita mainkan acara kita disitu, buat para tamu pengunjung senang, terhibur, dan
puas dengan acara yang kita bawakan. Setelah mereka puas, kita renang deh hehehe. Boleh di kolam renang atau
mau dilaut juga boleh, kita free
untuk ngapain aja sambil nunggu malem untuk acara BBQ-an, besoknya baru deh
kerja lagi kalo emang tamunya minta untuk main game lagi, kalo nggak ya kita free
lagi dong, sambil nunggu dzuhur untuk chek
out dari Hotel.
Setelah beres, dapet duit, langsung cabut dah. Enak bukan???
J
CILEGON at KCC SQuadra, 08/September/2013
Thursday, October 17, 2013
Virus GILA!
"Sial, ni virus nyusahin amat!" Aku menggumam dalam hati. Sudah hampir sebulan setiap kali membuka laptop bawaannya bete dan kesal. Ini gara-gara virus-virus gila yang menginveksi laptop kesayanganku. Bolak balik aku buka data, scan, kembali ke awal dan seterusnya sampe bosan. itu hanya gara-gara virus. Pada akhirnya program menulis gua jadi ketunda. Asli bete banget.
Ditambah tugas-tugas gua yang udah gua kerjain ilang semua gara-gara ni virus gila juga. KESEL!!!
Friday, September 6, 2013
CERPEN: Semiskin itukah "sang penguasa" negeri ini???
“Apa mereka sudah tak takut akan siksaan Tuhan???” Umam mengeluh didalam hati. Sore itu menjadi sore yang kalut, hatinya
sesak, napasnya berhembus berbalapan dengan cepat, dia kecewa dengan
sang penguasa negeri ini, tugasnya hanya berduduk santai dan tak peduli
dengan rakyat yang memerlukan bantuannya. Sial.
“Aku benar-benar kesal rah dengan semua ini, sebenarnya apa sih maunya mereka? Apa mereka tidak mengerti dengan tugas mereka sendiri?….” Umam mencoba mengeluarkan kesesakan didalam hatinya kepada Farah.
“Sabar.. sabar.. ini adalah cobaan bagi kita, aku juga baru tahu ternyata penguasa negeri ini tidak sebaik yang aku pikirkan” Farah mencoba untuk menenangkan.
Umam dan Farah adalah pemuda-pemudi negeri yang berprestasi dalam dunia perfilman indie, keduanya sangat berantusias sekali untuk bisa menyajikan film yang bermutu dan mengankat kebudayaan atau sejarah negeri ini yang mulai terlupakan.
Selama ini mereka telah berjalan hampir tujuh tahun memproduksi film dengan bermodalkan swadaya, beberapa film yang diproduksinya bahkan telah mendapatkan apresiasi atau juara diberbagai festival daerah maupun nasional. Tapi sayangnya sampai saat ini pun belum ada bantuan atau minimal sambutan hangat bagi mereka dari sang penguasa negeri ini. Padahal untuk lebih semangat mengembangkan hobi mereka yang merupakan sebuah kebanggan bagi negeri ini mereka butuh sambutan yang hangat.
Sudah berkali-kali Umam dan Farah memberikan proposal kepada penguasa setempat, tapi tau apa yang mereka dapat? Nihil. Betapa sulitnya penguasa negeri ini untuk memberikan dukungan bagi pemuda-pemudi yang berprestasi seperti Umam dan Farah, semiskin itu kah penguasa negeri kita ini? Padahal proposal yang diajukan sesuai dengan program kerja yang mereka jalankan yaitu sang penguasa yang memegang amanah melestarikan kebudayaan.
Tapi apa tindakan yang mereka lakukan? Mereka hanya berpangku tangan dan mengunci rapat tangan mereka, mereka seolah takut akan kehabisan uang dan seolah sedang kedatangan masalah ketika ada muda-mudi yang berprestasi dan mengajukan anggaran, atau sebuah bentuk dukungan sekali pun. Malang nian nasib negeri ini.
“Wah kami punya duit dari mana? Kalo untuk ini kami tidak bisa mengeluarkan… bla.. bla.. bla..” Ocehan sang penguasa yang tak tau diri. Mereka sebagai orangtua seharusnya menyambut hangat ketika ada anaknya yang berprestasi, bukannya malah beralasan ngawur.
Minimal ketika memang benar tidak ada anggarannya saat itu tapi mereka menerima dengan sopan dan bilang bahwa untuk saat ini anggarannya tidak ada, kami sangat mendukung karya kalian, karya kalian bagus dan perlu ditingkatkan, mungkin tahun depan kami baru bisa membantu. Dengan begitu saja Umam dan Farah pasti akan sangat bangga dan bersemangat untuk tetap terus berkarya walau memang belum bisa dapat anggaran biaya. Tapi faktanya sang penguasa buta akan hal itu.
“Kalo bukan kepada mereka pada siapa lagi kita mengadu rah? Untuk apa ada penguasa di negeri ini jika tak bisa berbuat apa-apa? Bahkan hanya untuk melayani masyarakat pun enggan? enyah sajalah mereka itu dari sini!!!!” Umam masih kecewa terhadap sang penguasa negeri.
Film sejarah yang digarap bersama teman-temannya sudah hampir selesei hanya tinggal proses editing, film itu digarap hampir enam bulanan dan berniat akan launching pada akhir bulan ini, tapi sayang seribu sayang sang penguasa negeri ini tuli. Mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri. Dan sama sekali tak respon untuk itu.
Sore itu pun mulai kelam seiring risaunya hati Umam, matahari telah berganti dengan bulan disertai bintang-bintang berkelip diangkasa, bagi sebagian orang itu adalah malam yang indah untuk dinikmati dinegeri ini, tapi tidak dengan Umam, pikirannya masih saja bergelut dengan kejadian yang telah dialaminya siang tadi.
Dirinya seolah tak percaya, mengapa bisa kami dipimpin oleh penguasa buta seperti itu? Manusia bertopeng itu penuh dengan sandiwara, mereka hanya menginginkan nama baik dimata masyarakat tapi enggan untuk berbuat. Mereka hanya bisa memakai topeng kebaikan yang dipakaikan oleh wartawan dan jurnalis. Biadab memang.
“Apa peran mereka dinegeri ini? Bukankah mereka adalah pelayan masyarakat? Tapi mengapa mereka seolah tak senang jika kedatangan masyarakat? Apa mereka sudah lupa akan amanat yang mereka emban? Sungguh terkutuk kau sang penguasa negeri jika kau bertindak seperti ini. Kami sangat murka kepada mu.” Hati kecil Umam tak kuat menahan sesak, pikirannya pun menerawang jauh.
Umam pun berfikir, dia harus tetap terus maju dan dia harus terus berjuang seperti tokoh yang ada didalam filmnya, tidak kenal lelah, tidak kenal takut untuk melawan kejahatan, bahkan nyawa sekalipun menjadi taruhannya.
“Aku harus tetap maju, perset*n dengan penguasa yang tak mau membantu, tanpa mereka kami pun tetap bisa maju, kami harus membuktikan bahwa kami bisa, bahwa kami mampu walau tanpa bantuan penguasa yang tak bertanggung jawab, tenang saja kami tidak akan sekali-kali lagi mampir kerumahmu.” Umam bertekad didalam hati dengan penuh keyakinan.
“Aku benar-benar kesal rah dengan semua ini, sebenarnya apa sih maunya mereka? Apa mereka tidak mengerti dengan tugas mereka sendiri?….” Umam mencoba mengeluarkan kesesakan didalam hatinya kepada Farah.
“Sabar.. sabar.. ini adalah cobaan bagi kita, aku juga baru tahu ternyata penguasa negeri ini tidak sebaik yang aku pikirkan” Farah mencoba untuk menenangkan.
Umam dan Farah adalah pemuda-pemudi negeri yang berprestasi dalam dunia perfilman indie, keduanya sangat berantusias sekali untuk bisa menyajikan film yang bermutu dan mengankat kebudayaan atau sejarah negeri ini yang mulai terlupakan.
Selama ini mereka telah berjalan hampir tujuh tahun memproduksi film dengan bermodalkan swadaya, beberapa film yang diproduksinya bahkan telah mendapatkan apresiasi atau juara diberbagai festival daerah maupun nasional. Tapi sayangnya sampai saat ini pun belum ada bantuan atau minimal sambutan hangat bagi mereka dari sang penguasa negeri ini. Padahal untuk lebih semangat mengembangkan hobi mereka yang merupakan sebuah kebanggan bagi negeri ini mereka butuh sambutan yang hangat.
Sudah berkali-kali Umam dan Farah memberikan proposal kepada penguasa setempat, tapi tau apa yang mereka dapat? Nihil. Betapa sulitnya penguasa negeri ini untuk memberikan dukungan bagi pemuda-pemudi yang berprestasi seperti Umam dan Farah, semiskin itu kah penguasa negeri kita ini? Padahal proposal yang diajukan sesuai dengan program kerja yang mereka jalankan yaitu sang penguasa yang memegang amanah melestarikan kebudayaan.
Tapi apa tindakan yang mereka lakukan? Mereka hanya berpangku tangan dan mengunci rapat tangan mereka, mereka seolah takut akan kehabisan uang dan seolah sedang kedatangan masalah ketika ada muda-mudi yang berprestasi dan mengajukan anggaran, atau sebuah bentuk dukungan sekali pun. Malang nian nasib negeri ini.
“Wah kami punya duit dari mana? Kalo untuk ini kami tidak bisa mengeluarkan… bla.. bla.. bla..” Ocehan sang penguasa yang tak tau diri. Mereka sebagai orangtua seharusnya menyambut hangat ketika ada anaknya yang berprestasi, bukannya malah beralasan ngawur.
Minimal ketika memang benar tidak ada anggarannya saat itu tapi mereka menerima dengan sopan dan bilang bahwa untuk saat ini anggarannya tidak ada, kami sangat mendukung karya kalian, karya kalian bagus dan perlu ditingkatkan, mungkin tahun depan kami baru bisa membantu. Dengan begitu saja Umam dan Farah pasti akan sangat bangga dan bersemangat untuk tetap terus berkarya walau memang belum bisa dapat anggaran biaya. Tapi faktanya sang penguasa buta akan hal itu.
“Kalo bukan kepada mereka pada siapa lagi kita mengadu rah? Untuk apa ada penguasa di negeri ini jika tak bisa berbuat apa-apa? Bahkan hanya untuk melayani masyarakat pun enggan? enyah sajalah mereka itu dari sini!!!!” Umam masih kecewa terhadap sang penguasa negeri.
Film sejarah yang digarap bersama teman-temannya sudah hampir selesei hanya tinggal proses editing, film itu digarap hampir enam bulanan dan berniat akan launching pada akhir bulan ini, tapi sayang seribu sayang sang penguasa negeri ini tuli. Mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri. Dan sama sekali tak respon untuk itu.
Sore itu pun mulai kelam seiring risaunya hati Umam, matahari telah berganti dengan bulan disertai bintang-bintang berkelip diangkasa, bagi sebagian orang itu adalah malam yang indah untuk dinikmati dinegeri ini, tapi tidak dengan Umam, pikirannya masih saja bergelut dengan kejadian yang telah dialaminya siang tadi.
Dirinya seolah tak percaya, mengapa bisa kami dipimpin oleh penguasa buta seperti itu? Manusia bertopeng itu penuh dengan sandiwara, mereka hanya menginginkan nama baik dimata masyarakat tapi enggan untuk berbuat. Mereka hanya bisa memakai topeng kebaikan yang dipakaikan oleh wartawan dan jurnalis. Biadab memang.
“Apa peran mereka dinegeri ini? Bukankah mereka adalah pelayan masyarakat? Tapi mengapa mereka seolah tak senang jika kedatangan masyarakat? Apa mereka sudah lupa akan amanat yang mereka emban? Sungguh terkutuk kau sang penguasa negeri jika kau bertindak seperti ini. Kami sangat murka kepada mu.” Hati kecil Umam tak kuat menahan sesak, pikirannya pun menerawang jauh.
Umam pun berfikir, dia harus tetap terus maju dan dia harus terus berjuang seperti tokoh yang ada didalam filmnya, tidak kenal lelah, tidak kenal takut untuk melawan kejahatan, bahkan nyawa sekalipun menjadi taruhannya.
“Aku harus tetap maju, perset*n dengan penguasa yang tak mau membantu, tanpa mereka kami pun tetap bisa maju, kami harus membuktikan bahwa kami bisa, bahwa kami mampu walau tanpa bantuan penguasa yang tak bertanggung jawab, tenang saja kami tidak akan sekali-kali lagi mampir kerumahmu.” Umam bertekad didalam hati dengan penuh keyakinan.
Subscribe to:
Posts (Atom)





