Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Friday, May 23, 2014

Ahsan: Journey in Pondok #4 (Hari Yang Menjanjikan)



Ahsan: Journey in Pondok #4 (Hari Yang Menjanjikan)

“Lamun hirup dipondok kudu sing hati-hati, ulah loba lalaga jeung kudu nurut ka guru. Ulah pikaseubeleun batur …” Kata Nenekku menasehati.

“Iyah ndek …” Aku mengangguk-angguk seperti burung beo.

“Ini ada bungkusan tanah, nanti pas mau berangkat dibawa yah, terus nanti kalo udah sampe pondok taro dibawah tempat tidur, biar kamu betah tinggal disana” Sambil memberikan satu bungkusan pelastik kecil yang biasa di pakai untuk bungkus es kenyot, bedanya pelastik yang diberikan kepadaku saat ini berisi tanah. 

“Emang bisa ngaruh ya ndek? Hehe” Aku sedikit tidak percaya dengan teori kolot ini.

“Udah kamu simpen aja, ulah loba tanya, pamali!” Kilah Nenekku.

Wednesday, April 30, 2014

Maaf untuk Ahsan!

Oke langsung aja, hari ini tepat pada tanggal 30 April 2014 yang bertepatan juga dengan akan berakhirnya bulan April, saya mengumumkan bahwa tulisan yang setiap bulan wajib hadir "Ahsan Journey in Pondok" dibulan ini resmi digabung di bulan depan (Mei). Mengapa?

Sunday, March 30, 2014

Ahsan: Journey in Pondok! (Pengumuman Penting) #3


Ahsan: Journey in Pondok! (Pengumuman Penting)
 
Langit tampak biru cerah dengan gempulan awan berjalan pelan beriringan, aroma pantai serta angin berhembus ringan menerpa mukaku. Daun pohon kelapa yang berjejer rapih di pinggir pantai pun ikut menari-nari riang mengikuti arah angin berhembus. Nampak jelas karang-karang menonjolkan diri disana-sini, air laut sedang tidak pasang. Ini adalah saat yang tepat bagi kami untuk berburu ikan dan kepiting. Aku berburu kepiting dan ikan bersama kawan-ku Jefry dan Marsan.

Aku ingin bercerita sedikit tentang perkawananku dikampung. Jefry dan Marsan adalah kawanku di sekolah sekaligus di kampung dan mereka termasuk kedalam gengku. Geng Cangkek. Nama ini diambil dari nama kampung kami sebelum berubah menjadi Kampung Kadong-dong. Geng Cangkek terdiri dari anak-anak yang ada di kampung kami, mereka ada yang tidak sekolah atau berhenti dari sekolah dan ada juga yang umurnya lebih tua dariku, Jefry dan Marsan adalah kawanku yang seumuran sekaligus satu sekolah denganku. Tentu mereka berdualah yang paling dekat denganku. Kegiatan yang biasa kami lakukan sangat beragam, mulai dari main bola di lapangan hijau, lapangan kebanggaan kampung kami, hampir setiap sore lapangan ini dikunjungi oleh warga, kemudian kami juga selalu pergi ke Masjid setiap waktu sholat tiba untuk sholat berjama’ah (kalo lagi pada insaf, biasanya sih musiman Hehehe), selain itu kami juga sering berpetualang ke hutan alas untuk mencari burung emprit atau mencari buah huni dan jambu batu untuk kami makan bersama, ada lagi tempat yang paling kami suka yaitu adalah pantai.

Sunday, February 23, 2014

Ahsan: Journey in Pondok (Ujian Tulis dan Lusi) #2


Ahsan: Journey in Pondok! (Ujian Tulis dan Lusi)

Pagi-pagi sekali aku sudah bangun dan bersiap-siap untuk pergi ke pondok. Hari ini aku akan mengikuti ujian tulis. Rencananya aku dan Orangtua-ku akan menumpang naik mobil temanku Lusi. Lusi adalah teman kecil-ku. Mamah Lusi dan Ibu-ku adalah sahabat karib dari kecil. Rumah Lusi tidak jauh dari rumah-ku kami masih satu kampung, hanya diselak beberapa rumah saja aku sudah bisa bertemu dengan dia. 

Aku ingin bercerita sedikit tentang hubungan aku dengan Lusi. Waktu kecil aku sering sekali main ke rumah dia, dengan ditemani Ibu-ku tentunya. Lebih tepatnya sih aku yang menemani Ibu-ku main ke rumah Mamahnya Lusi. Ya sama aja deh! Pada intinya aku main ke rumah Lusi. Hehehe

Menurutku Lusi adalah seorang gadis yang manis, pintar, dan baik. Dari pertama kali aku kenal dia, dari saat itulah aku sudah tertarik padanya. Matanya yang sipit, mukanya yang berbentuk oval dan rambutnya yang panjang lurus terjuntai dengan bando dikepalanya (waktu dulu aku masih sering main ke rumahnya dia masih belum pake kerudung) dan kulitnya yang putih bersih akan membuat setiap laki-laki manapun merelakan waktunya habis begitu saja hanya untuk menatapnya. Ya dia merupakan Cinta pertama-ku. Ciee.. Ngomongin cinta jadinya nih! Hehehe Oke lanjut deh! 

Thursday, January 16, 2014

Ahsan: Journey in Pondok! #1


Mandalawangi, 30 Juli 2008
Perlahan-lahan dan dengan sangat hati-hati, aku melihat-lihat kesekeliling loteng Asrama. Aku sudah berada di Asrama Lantai 2 ditangga kamar mandi belakang. Beberapa kali aku mencoba melihat kebawah untuk memastikan tidak ada orang. Bunyi kucuran air menggeru-geru didalam tangki air memberikan efek menegangkan dan mempercepat degup detak jantungku. Sesekali bunyi keran didalam kamar mandi mengocor dengan sendirinya menandakan ada orang yang sedang menggunakannya. Tidak buang waktu setelah keadaan aku rasa cukup aman, aku langsung melompat keatas tembok. Aku memanjat dengan gesit dan dengan sangat hati-hati. Sekali dua kali kakiku menendang-nendang diudara dan hup…! Tanganku mencoba untuk mengangkat badanku sendiri. Akhirnya aku sampai diatas loteng.

Aku berjalan ketengah dengan sedikit menunduk, sekarang sampailah ditujuanku. Loteng atas Asrama. Loteng ini adalah tempat favoritku dipondok. Selain nyaman dan hening, dengan latar langit yang berwarna biru aku dapat melihat dengan jelas Gunung Aseupan yang berdiri gagah menantang awan-awan yang berjalan ringan seolah-olah mencoba untuk melewatinya. Dibawah gunung, terhampar pesawahan yang sangat luas milik orang-orang sekitar Desa Mandalawangi, sesekali aku melihat petani dan kerbaunya yang sedang suka hati membajak sawah yang subur. Sangat indah. Aku juga melihat dan mendengar kicauan burung yang sedang kejar-kejaran diudara. Sejenak aku memejamkan mata, perlahan aku mencoba untuk menarik napas sambil meresapi alam yang sedang ada disekitarku, udara pegunungan Mandalawangi perlahan masuk kedalam rongga dadaku. Setelah sesak dan dadaku mulai terasa sempit aku buang napas perlahan dari mulut. “Fuuuuu…. hhh!” Begitu nikmat dan segar sekali. Di Loteng ini adalah tempat dimana aku ingin sendiri, merenung dan berkhayal cita, dan tempat aku membangun mimpi.

Tidak terasa aku sudah satu tahun berada dipondok ini dan sekarang aku sudah duduk dibangku kelas 2. Tiba-tiba pikiranku menerawang jauh pada kejadian awal mula aku kepondok.

***

Carita, 28 Mei 2007
“San… Ahsan…! Ayo cepat kita mau berangkat sekarang, bapak lagi manggil ojeg buat kamu! Sebentar lagi datang.” Ibuku memperingatkanku dengan gaya khasnya, sambil menyiapkan beberapa bekal makanan yang akan dibawa. Sibuk.

“Iya… Bu!”. Aku menjawab malas.

Dari awal aku memang tidak mau masuk pondok, aku mendapatkan hasutan dari teman-teman sekampungku, kalo tinggal dipondok itu tidak enak. Gak ada TV, gak bisa bebas bermain, gak ada PS, harus nyuci sendiri, masak sendiri, teman-temannya nakal semua, guru-gurunya galak-galak, disiplinnya ketat banget, dan masih banyak lagi keresahan yang mereka tularkan kepadaku.

            “Enakan sekolah di SMP biasa san, sekolah dipondok udah pasti gak enak! Komo lamun katimu babaturan anu badung-badung! Geus moal betah lah maneh mah. Apalagi kalo ketemu sama temen-temen yang nakal, pasti kamu gak bakalan betah deh!”. Kata Jefry salah satu teman bermainku di kampung mencoba untuk menghasutku.

Aku semakin bimbang sejak kejadian itu, haruskah aku egois mengikuti keinginanku ataukah aku menurut dan patuh pada kedua orangtuaku. Disamping itu hatiku kecilku tetap memilih untuk taat kepada orangtua, aku mempunyai keyakinan orangtua bertindak seperti ini bukan karena benci, melainkan karena sayang pada anaknya.

***

Angin berhembus menerpa mukaku sejuk, sudah hampir 15 menit aku menumpangi motor Mang Pulung, dengan tubuhnya yang gempal dan energik dia sangat gesit menjalankan tugasnya. Tikungan tajam, jalan mendaki, tak menghalangi kepiawaian dia dalam mengendarai motor. Sepanjang jalan aku hanya melihat alam yang diselimuti kehijauan, pepohonan yang rimbun dan jalan yang berundak-undak disertai ranjau lubang yang hampir ikut serta disetiap jalan. Aku melintasi jalan alternative Caringin menuju Pandeglang. Kata Mang Pulung Pondok yang akan aku tuju sudah tidak jauh lagi. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai kepondok itu sekitar 30 sampai 60 menit dari rumahku. Tapi semakin aku menghitung waktu, aku merasa semakin lama dan semakin merasa jauh.
Sementara Ibuku naik motor bersama Bapakku mengikuti motor Mang Pulung dari belakang.

“Mang masih lama gak?” Aku bertanya untuk yang ketiga kalinya.

“Tenang, kedeung deui geh sampe. bentar lagi sampe ko, udah deket tinggal ngelewatin tanjakan bangangah yeuh!” Sedikit berteriak Mang Pulung menjawab.

Tanjakan Bangangah merupakan tanjakan yang paling terjal dan curam lagi panjang yang ada dijalan alternative Caringin – Pandeglang. Motor Mang Pulung menggeram-geram dengan buas berusaha mengeluarkan tenaga paling maksimal melawan tanjakan ini, namun motor Mang pulung masih tetap merayap pelan sambil berkelok-kelok kekenan dan kekiri. Sementara aku terus berdo’a dan berdzikir semoga motor ini bisa cepat sampai diatas.

Setelah 2 samapai 3 menitan akhirnya kami berhasil melewati tanjakan curam itu, iseng aku menengok melihat kembali tanjakan kebawah dan Subhanallah… Pemandangan dari atas tanjakan ini sungguh luar biasa indah. Aku dapat melihat hamparan alam luas membentang hijau selepas jauh mata memandang dan diujung bawah aku melihat garis pinggir pantai dan daratan Daerah Labuan dan Carita lengkap dengan cakrawalanya. Baru pertama kali aku melihat pemandangan yang seindah ini.

***

Akhirnya aku tiba didepan gerbang Pondok yang akan aku tempati, Pondok Al-Falaah. Aku sempat kaget ketika melihat gerbang dan bangunannya. Benarkah ini adalah sebuah Pondok Pesantren? Atau malah sekolah elit. Bangunan yang berdiri kokoh dengan atap yang sangat lebar, disertai taman hijau yang rapih nan bersih dengan list bunga berwarna ungu berbaris rapih mengitari pinggiran taman, ada juga tiga pohon palem yang berdiri tegak ditengah-tengah halaman disamping Masjid. Sejuk, tentram dan damai. “Aku rasa aku mulai tertarik dengan pondok ini, bisakah aku sekolah disini?” Gumamku dalam hati.

Didepan Lobi utama aku dapat menyaksikan Gunung Pulo Sari yang berdiri gagah. Gunung ini berwarna hijau membentuk gambar segitiga, gunung ini mengingatkan aku dengan gambar-gambar yang sering aku buat di SD ketika pelajaran menggambar. Ternyata Gunung yang benar-benar berbentuk segitiga itu memang benar ada wujudnya. Dan gunung itu ada tepat persis didepanku sekarang didepan Pondok Al-Falaah.

Dilobi utama pesantren, aku dan orangtuaku disambut dengan ramah oleh santri yang sedang Bulish nahr atau piket siang. Mereka menebar senyum kemudian menawarkan apa yang mereka bisa bantu. Setelah mengobrol ringan dengan kedua orangtuaku akhirnya kami diajak untuk berkeliling dan melihat-lihat Pondok. Aku di ajak ke tempat-tempat yang biasa digunakan kegiatan oleh para santri. Aku diajak berkeliling ke Kelas, Masjid, Asrama, Kamar Mandi Asrama, Jemuran Belakang Asrama, Tempat Cuci Baju, dan Dapur. Pondok ini mempunyai 2 kampus. Kampus pertama berada di Bangkong dan kampus kedua berada di Pari yang sekarang sedang aku kunjungi. Asrama yang ada di kampus 2 ini terdiri dari 2 lantai, asrama bawah merupakan asrama putra dan asrama atas merupakan asrama putri.

Setelah puas berkeliling pondok tidak terasa suara adzan berkumandang. Dan kami bergegas untuk pergi ke Masjid terlebih dahulu. Disini aku melihat para santri keluar dari kelasnya dan bergegas pergi ke Masjid guna menunaikan Sholat Dzuhur berjamaah. Aku terkesan sekali dengan suasana seperti ini. Ramai, nyaman, damai dan sejuk dihati. Aku suka sekali dengan pondok ini.

Aku dan orangtua-ku ikut sholat berjamaah dengan para santri, entah mengapa aku merasakan suasana hati yang beda yang tidak pernah aku dapati dalam kehiduapanku sebelumnya. Melihat para santri yang berdisiplin pergi ke masjid, makan, dan mengikuti kegiatan lainnya. Aku jadi ingat dengan Film Boboho Shaolin Temple yang sering aku lihat di TV. Di cerita Film Boboho mereka tinggal di sebuah Perguruan Shaolin dan mengikuti kegiatan yang padat dan mereka juga harus berdisiplin mengikutinya. Aku sangat suka sekali Film ini. Bahkan aku pernah berkhayal mungkin kalo aku tinggal dipondok ini aku bisa mandiri seperti tokoh-tokoh yang ada di Film Boboho. Ada juga satu Film Laga lainnya yang sangat aku gemari yaitu Film Jackie Chan. Aku sangat suka Film Jackie Chan, film ini mengajarkan aku bahwa hidup itu harus berbuat, harus berlatih, harus kuat, dan tidak kenal kata menyerah. Ko malah jadi cerita kemana-mana ini. Oke lanjut ke jalan cerita yang ada lagi sekarang. Hehehe

***

Setelah selesai sholat aku memutuskan dalam hati. Aku mau sekolah disini. Tapi aku belum berkata kepada orangtuaku. Aku masih menyimpannya sendiri dalam hati.

Ibuku menyuruh aku langsung daftar dan test lisan. Padahal aku belum menyiapkan apa-apa, aku belum belajar sebelumnya karena niat pertama aku ke pondok saat ini bukan untuk test! Tapi hanya untuk survey tempat saja. Aku bingung.

Dengan modal semangat, dan do’a dari orangtua aku mencoba untuk memberanikan diri. Aku dipanggil ke ruangan yang berada di Loby atas. Aku bertemu dengan seorang Ustadzah muda yang cantik nan anggun, belakangan ini aku tau ternyata dia adalah Ustadzah Umi. Dia sangat ramah dan mempersilahkan aku duduk. Pertama-tama aku test Imla, yang kedua baru Baca Al-Qur’an. Aku menjawab semua pertanyaan dengan semampu yang aku bisa.

Testing yang diadakan Pondok ada 2 tahap. Tahap pertama ada Test Lisan yang baru saja aku ikuti, dan tahap kedua adalah Test Tulis yang nanti akan diselanggarakan ditanggal yang telah ditentukan, test tulis ini akan diikuti oleh seluruh calon santri yang telah mendaftar sebelumnya. Test Lisan terdiri dari Baca Al-Qur’an dan Imla (menulis arab) sementara Test Tulis yaitu testing pelajaran umum seperti pelajaran IPA, IPS, Matematika, Psycotest dan Bahasa Inggris.

Aku masih punya harapan di Test Tulis. Test Tulis akan diadakan 2 minggu lagi bareng disatu waktu yang telah di tentukan oleh pondok. 2 Minggu lagi aku akan bertemu kawan-kawan baru yang akan mengikuti test tulis bersamaan denganku. Aku akan menyiapkan sebaik mungkin, aku dengar orang yang sekolah di pondok ini bukan hanya orang-orang yang ada di Pandeglang tapi juga ada banyak yang dari luar Daerah Pandeglang. Seperti Tangerang, Serang, Lampung, Bali, Aceh, dan daerah-daerah lainnya. Maka dari itu aku harus berjuang dengan semaksimal mungkin, aku gak boleh minder dengan orang-orang itu. “Kalo mereka bisa, kenapa kamu nggak? Kamu pun pasti bisa!” Begitu kata Ibuku menyemangatiku untuk tetap berjuang.

Ada beberapa percakapan yang membuat hati-ku gusar. Ibu ku berkata padaku "San, ibu harap kamu mau belajar disini untuk memperdalam ilmu agama juga ilmu umum. Karena cuma disini kamu bisa dapet dunia juga akhirat. Apalagi kamu tau, ibu sama bapak ilmu agamanya nggak seberapa. Masih harus terus belajar lagi, makannya ibu sekolahkan kamu disini biar kamu bisa menggali dan mengajarkan ilmu agama khususnya ke orantua dan keluarga. Umumnya kepada umat manusia. Itu harapan ibu san! Kamu adalah anak laki-laki dan anak pertama, langkah-mu pasti akan jauh!" Sambil mengusap-usap kepalaku.

Waktu itu aku hanya diam dan bergumam dalam hati. "Iya aku harus bisa melanjutkan cita-cita kedua orangtuaku, aku harus bisa. Kalo bukan aku yang melanjutkannya? Siapa lagi? dan aku juga harus berbakti kepada orangtua. Merekalah yang sudah mengasuh-ku sampai saat ini. Kalo bukan sekrang aku berbakti? Kapan lagi?" Pikiran seperti ini sudah aku miliki walau baru seusia lulusan anak Sekolah Dasar.

Dari sinilah aku merasa ada sebuah perjalanan panjang yang akan aku tempuh. Ada sebuah amanat besar yang akan aku pegang. Ada harapan dan cita-cita luas yang akan aku raih. Ada dunia baru yang akan aku temui dan ada teman-teman baru yang akan menjadi keluargaku. Aku berharap semuanya akan berjalan lancar dan sesuai dengan apa yang aku dan orangtuaku harapkan. Do’a dan support mereka untukku tidaklah akan putus sampai kapanpun.

Friday, September 6, 2013

CERPEN: Semiskin itukah "sang penguasa" negeri ini???

“Apa mereka sudah tak takut akan siksaan Tuhan???” Umam mengeluh didalam hati. Sore itu menjadi sore yang kalut, hatinya sesak, napasnya berhembus berbalapan dengan cepat, dia kecewa dengan sang penguasa negeri ini, tugasnya hanya berduduk santai dan tak peduli dengan rakyat yang memerlukan bantuannya. Sial.

“Aku benar-benar kesal rah dengan semua ini, sebenarnya apa sih maunya mereka? Apa mereka tidak mengerti dengan tugas mereka sendiri?….” Umam mencoba mengeluarkan kesesakan didalam hatinya kepada Farah.

“Sabar.. sabar.. ini adalah cobaan bagi kita, aku juga baru tahu ternyata penguasa negeri ini tidak sebaik yang aku pikirkan” Farah mencoba untuk menenangkan.

Umam dan Farah adalah pemuda-pemudi negeri yang berprestasi dalam dunia perfilman indie, keduanya sangat berantusias sekali untuk bisa menyajikan film yang bermutu dan mengankat kebudayaan atau sejarah negeri ini yang mulai terlupakan.

Selama ini mereka telah berjalan hampir tujuh tahun memproduksi film dengan bermodalkan swadaya, beberapa film yang diproduksinya bahkan telah mendapatkan apresiasi atau juara diberbagai festival daerah maupun nasional. Tapi sayangnya sampai saat ini pun belum ada bantuan atau minimal sambutan hangat bagi mereka dari sang penguasa negeri ini. Padahal untuk lebih semangat mengembangkan hobi mereka yang merupakan sebuah kebanggan bagi negeri ini mereka butuh sambutan yang hangat.

Sudah berkali-kali Umam dan Farah memberikan proposal kepada penguasa setempat, tapi tau apa yang mereka dapat? Nihil. Betapa sulitnya penguasa negeri ini untuk memberikan dukungan bagi pemuda-pemudi yang berprestasi seperti Umam dan Farah, semiskin itu kah penguasa negeri kita ini? Padahal proposal yang diajukan sesuai dengan program kerja yang mereka jalankan yaitu sang penguasa yang memegang amanah melestarikan kebudayaan.

Tapi apa tindakan yang mereka lakukan? Mereka hanya berpangku tangan dan mengunci rapat tangan mereka, mereka seolah takut akan kehabisan uang dan seolah sedang kedatangan masalah ketika ada muda-mudi yang berprestasi dan mengajukan anggaran, atau sebuah bentuk dukungan sekali pun. Malang nian nasib negeri ini.

“Wah kami punya duit dari mana? Kalo untuk ini kami tidak bisa mengeluarkan… bla.. bla.. bla..” Ocehan sang penguasa yang tak tau diri. Mereka sebagai orangtua seharusnya menyambut hangat ketika ada anaknya yang berprestasi, bukannya malah beralasan ngawur.

Minimal ketika memang benar tidak ada anggarannya saat itu tapi mereka menerima dengan sopan dan bilang bahwa untuk saat ini anggarannya tidak ada, kami sangat mendukung karya kalian, karya kalian bagus dan perlu ditingkatkan, mungkin tahun depan kami baru bisa membantu. Dengan begitu saja Umam dan Farah pasti akan sangat bangga dan bersemangat untuk tetap terus berkarya walau memang belum bisa dapat anggaran biaya. Tapi faktanya sang penguasa buta akan hal itu.

“Kalo bukan kepada mereka pada siapa lagi kita mengadu rah? Untuk apa ada penguasa di negeri ini jika tak bisa berbuat apa-apa? Bahkan hanya untuk melayani masyarakat pun enggan? enyah sajalah mereka itu dari sini!!!!” Umam masih kecewa terhadap sang penguasa negeri.

Film sejarah yang digarap bersama teman-temannya sudah hampir selesei hanya tinggal proses editing, film itu digarap hampir enam bulanan dan berniat akan launching pada akhir bulan ini, tapi sayang seribu sayang sang penguasa negeri ini tuli. Mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri. Dan sama sekali tak respon untuk itu.

Sore itu pun mulai kelam seiring risaunya hati Umam, matahari telah berganti dengan bulan disertai bintang-bintang berkelip diangkasa, bagi sebagian orang itu adalah malam yang indah untuk dinikmati dinegeri ini, tapi tidak dengan Umam, pikirannya masih saja bergelut dengan kejadian yang telah dialaminya siang tadi.

Dirinya seolah tak percaya, mengapa bisa kami dipimpin oleh penguasa buta seperti itu? Manusia bertopeng itu penuh dengan sandiwara, mereka hanya menginginkan nama baik dimata masyarakat tapi enggan untuk berbuat. Mereka hanya bisa memakai topeng kebaikan yang dipakaikan oleh wartawan dan jurnalis. Biadab memang.

“Apa peran mereka dinegeri ini? Bukankah mereka adalah pelayan masyarakat? Tapi mengapa mereka seolah tak senang jika kedatangan masyarakat? Apa mereka sudah lupa akan amanat yang mereka emban? Sungguh terkutuk kau sang penguasa negeri jika kau bertindak seperti ini. Kami sangat murka kepada mu.” Hati kecil Umam tak kuat menahan sesak, pikirannya pun menerawang jauh.

Umam pun berfikir, dia harus tetap terus maju dan dia harus terus berjuang seperti tokoh yang ada didalam filmnya, tidak kenal lelah, tidak kenal takut untuk melawan kejahatan, bahkan nyawa sekalipun menjadi taruhannya.

“Aku harus tetap maju, perset*n dengan penguasa yang tak mau membantu, tanpa mereka kami pun tetap bisa maju, kami harus membuktikan bahwa kami bisa, bahwa kami mampu walau tanpa bantuan penguasa yang tak bertanggung jawab, tenang saja kami tidak akan sekali-kali lagi mampir kerumahmu.” Umam bertekad didalam hati dengan penuh keyakinan.

Thursday, June 6, 2013

Cerpen Belum Jadi!

Masih menggunakan celana bahan kesayangannya, berwarna cokelat bekas celana pramuka, kali ini Surya tampak begitu murung dan gelisah, mukanya terlihat ditekuk dan tak sedikitpun terbersit senyuman yang muncul dibibirnya, aku berprasangka sepertinya telah terjadi sesuatu padanya, dan benar saja ternyata dia sedang galau.

"Lang lo mau kemana hari ini?" tanya Surya dengan muka masih ditekuk.

"Gak kemana-mana, ada apa emangnya sob??" aku mengembangkan senyum kepadanya, dan dia tetap tidak merubah raut mukanya.

"Gua mau cerita sama nanya ni" dengan tatapan mata yang lemah.

"Oke, cerita apa bro...? cerita aja, gua siap untuk mendengarkan" kembali kukembangkan senyumku.

"Gua gak ngerti... gak ngerti lang, kenapa harus kaya gini... padahal gua udah berusaha biasa sama dia, dan gua udah berbuat baik sama dia lang, tapi dia tetep aja kaya gitu lang, apa gua harus berbuat sebaliknya?" dengan nada terbata-bata dan tatapan menerawang membayangkan kejadian sebelumnya.

"Maksudnya gimana ya? duh gua bingung ni hehe, maksud lo tadi si Fitri?" masih mencari penjelasan dan mencairkan suasana.

Tanpa kata dan masih dalam raut muka yang sama Surya hanya menggangguk. Sekarang aku baru bisa mengerti, ternyata Surya masih menggalau karena satu hal, cewek. Akhir-akhir ini Surya memang sering mengeluh dan curhat pada ku tentang masalahnya dalam percintaan, dia suka pada seorang cewek satu angkatannya yang menurutnya dia adalah seorang yang cocok untuk menjadi pendampingnya untuk menjadi pacarnya, tapi apa daya kawan ternyata harapan dan kenyataan tak selamanya berteman, Fitri tidak menyukai Surya dan ini mebuatnya patah semangat ini membuatnya rancu. Betapa hebat virus Cinta yang telah merasuk ke dalam pikiran Surya, dirinya kini telah dikendalikan oleh virus itu, virus yang bisa saja hinggap pada manusia mana pun, tak pandang bulu dan pandang siapa, virus ini virus yang bisa mematikan juga bisa menghidupkan.